Indonesia punya kebudayaan yang begitu banyak, dari tradisi masyarakat pesisir hingga warisan kerajaan dan kesultanan yang masih bertahan sampai sekarang. Salah satunya adalah budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura di Kalimantan Timur. Di Tenggarong, jejak sejarah tersebut bukan hanya tersimpan di museum atau bangunan bersejarah, tetapi juga terus hidup melalui Festival Erau Tenggarong, sebuah pesta adat yang mempertemukan tradisi leluhur, seni, masyarakat, dan kehidupan modern dalam satu perayaan.
Kalau kamu ingin merasakan sisi lain dari Kalimantan Timur, Festival Erau bisa menjadi pengalaman yang menarik. Bukan sekadar festival budaya yang ramai, Erau membawa kamu lebih dekat dengan sejarah panjang Kesultanan Kutai dan nilai-nilai yang masih dijaga hingga hari ini.
Erau merupakan pesta adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang diselenggarakan di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Nama Erau berasal dari kata “eroh” yang berarti ramai, riuh, dan penuh suka cita. Seiring perkembangannya, Erau menjadi salah satu agenda budaya penting di Kutai Kartanegara sekaligus daya tarik wisata budaya di Tenggarong. Suasananya pun jauh dari kata monoton. Ketika Erau berlangsung, Tenggarong dipenuhi berbagai pertunjukan seni, ritual adat, kegiatan masyarakat, hingga acara budaya yang melibatkan banyak kelompok. Inilah yang membuat Erau terasa seperti perayaan budaya yang benar-benar hidup, bukan sekadar pertunjukan untuk wisatawan.

Sejarah Erau sudah berlangsung selama berabad-abad. Catatan pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menyebutkan bahwa pelaksanaan awal Erau berkaitan dengan upacara Tijak Tanah dan Mandi ke Tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia lima tahun. Setelah dewasa dan menjadi raja pertama Kutai Kartanegara pada 1300 hingga 1325, upacara Erau kembali dilaksanakan. Sejak saat itu, Erau kemudian menjadi bagian dari tradisi ketika terjadi pergantian atau penobatan raja Kutai Kartanegara.
Dalam perkembangannya, pelaksanaan Erau sempat mengalami perubahan setelah berakhirnya pemerintahan swapraja. Tradisi ini kemudian kembali dilestarikan dan disesuaikan dengan pakem adat Kesultanan setelah penabalan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura pada 2001. Kini, Erau tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian adat Kesultanan, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendukung pariwisata dan ekonomi masyarakat Kutai Kartanegara.
Karena itu, ketika kamu datang ke Erau, sebenarnya kamu sedang menyaksikan bagian dari perjalanan sejarah Kutai yang masih berlangsung hingga sekarang.
Di balik kemeriahannya, Erau memiliki nilai yang jauh lebih dalam. Dahulu, Erau juga dikaitkan dengan rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh masyarakat. Semangat tersebut kemudian berkembang menjadi pesta adat yang menghadirkan masyarakat dalam suasana penuh suka cita.
Salah satu tradisi yang menarik adalah Beseprah. Dalam tradisi ini, masyarakat duduk bersama di atas tikar dan menikmati hidangan khas Kutai. Yang membuatnya istimewa adalah tidak adanya sekat antara bangsawan, pejabat, maupun masyarakat biasa. Semua duduk dan makan bersama sebagai simbol kesejajaran, kebersamaan, dan kekeluargaan.

Jadi, kalau kamu melihat Erau hanya sebagai festival dengan pertunjukan meriah, ada banyak lapisan cerita lain yang bisa kamu temukan. Ada rasa syukur, penghormatan terhadap leluhur, kebersamaan, hingga hubungan manusia dengan lingkungan dan kehidupan sosialnya.
Salah satu bagian Erau yang paling menarik perhatian adalah prosesi Mengulur Naga. Dalam prosesi ini, replika Naga Laki dan Naga Bini dibawa dari Museum Mulawarman menuju Kutai Lama, kawasan yang menjadi bagian penting dalam sejarah awal Kesultanan Kutai. Tubuh naga kemudian dilarung ke Sungai Mahakam, sementara kepala dan ekornya dibawa kembali untuk disemayamkan di keraton.
Rangkaian Erau kemudian ditutup dengan Belimbur. Tradisi ini ditandai dengan saling menyiramkan air sebagai simbol penyucian diri dan pembersihan dari hal-hal buruk. Air Tuli yang berasal dari Kutai Lama menjadi bagian penting dalam prosesi tersebut. Selain memiliki makna spiritual, Belimbur juga menjadi momen yang mempererat hubungan masyarakat.
Bayangkan suasana Tenggarong ketika prosesi ini berlangsung. Jalanan dipenuhi masyarakat, air disiramkan ke berbagai arah, dan suasana kota berubah menjadi begitu meriah. Inilah salah satu momen yang membuat Festival Erau terasa sangat dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Keunikan Erau terletak pada perpaduan antara tradisi Kesultanan dan keterlibatan masyarakat luas. Festival ini tetap mempertahankan ritual adat yang sakral, tetapi di saat yang sama menghadirkan pertunjukan seni dan kegiatan budaya yang bisa dinikmati masyarakat dari berbagai latar belakang.
Dalam pelaksanaannya, Erau juga menjadi ruang bertemunya berbagai komunitas dan kelompok etnik yang tinggal di Kutai Kartanegara. Pemerintah daerah mencatat bahwa festival seni budaya di luar keraton melibatkan berbagai unsur masyarakat, sehingga Erau menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan sekaligus menjaga keberagaman budaya di daerah tersebut.
Buat kamu yang gemar wisata budaya, pengalaman seperti ini tentu berbeda dari sekadar mengunjungi destinasi wisata. Kamu tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga bisa merasakan bagaimana sebuah tradisi diwariskan dan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Kalau kamu ingin menyaksikan Festival Erau secara langsung, Tenggarong menjadi tujuan utama yang perlu kamu datangi. Sejumlah rangkaian acara biasanya berlangsung di beberapa titik kota, sementara prosesi adat tertentu mengikuti ketentuan dan lokasi yang telah ditetapkan oleh Kesultanan.
Jadwal Erau dapat berubah setiap tahun. Sebagai contoh, Festival Budaya Erau Adat Kutai 2025 berlangsung pada 21 hingga 29 September dengan rangkaian ritual adat, seni budaya, dan kegiatan pendukung lainnya.
Karena sebagian prosesi Erau memiliki aturan adat dan bersifat sakral, kamu juga perlu menghormati arahan panitia, masyarakat setempat, serta ketentuan Kesultanan saat berada di lokasi. Untuk mendapatkan pengalaman yang lebih lengkap, kamu bisa memantau informasi resmi pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menjelang periode penyelenggaraan.
Selain Erau, jangan lewatkan kesempatan untuk menjelajahi Tenggarong. Museum Mulawarman, yang merupakan bekas keraton Kesultanan Kutai Kartanegara, menjadi salah satu tempat menarik untuk mengenal lebih jauh sejarah dan peninggalan budaya Kutai.
Festival Erau Tenggarong membuktikan bahwa warisan budaya tidak harus berhenti sebagai cerita dari masa lalu. Di tangan masyarakat dan Kesultanan Kutai Kartanegara, tradisi ini terus hidup, berkembang, dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Kalau kamu sedang merencanakan perjalanan ke Kalimantan Timur, menjadikan Tenggarong sebagai salah satu tujuan bisa memberikan pengalaman yang berbeda. Kamu bisa mengenal sejarah Kesultanan Kutai, menikmati kekayaan budaya lokal, sekaligus melihat langsung bagaimana tradisi berusia panjang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Agar perjalananmu semakin nyaman, kamu juga bisa memilih akomodasi yang sesuai dengan gaya liburanmu. OYO 94765 Syafla Guesthouse atau OYO 94775 Palm Cafe Inn bisa menjadi salah satu pilihan untuk menemani perjalananmu menjelajahi kota. OYO juga menyediakan pilihan properti mulai dari akomodasi dengan fasilitas yang lebih premium hingga pilihan yang sesuai dengan budget kamu. Jadi, setelah puas menikmati kemeriahan Erau, kamu tetap bisa beristirahat dengan nyaman sebelum melanjutkan petualangan berikutnya.

Sudah siap mengenal budaya Kutai dari dekat? Rencanakan perjalananmu ke Tenggarong dan cek pilihan properti OYO melalui aplikasi OYO sekarang juga.
Please go back to portrait mode for the best experience
Comments are closed here.