Nusa Tenggara Timur bukan hanya punya alam yang membuat siapa pun ingin segera mengemas koper. Di balik hamparan sabana, pantai dengan garis pantai yang panjang, hingga perbukitan yang seolah tidak ada habisnya, NTT juga menyimpan budaya yang masih dijaga hingga sekarang. Salah satunya adalah Sumba, pulau yang dikenal dengan desa adat, makam megalitik, kain tenun ikat, kuda Sumba, serta berbagai ritual yang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di antara tradisi tersebut, Pasola Sumba menjadi salah satu yang paling menarik perhatian karena memadukan keberanian, kuda, dan kepercayaan masyarakat dalam sebuah ritual adat.
Kalau selama ini kamu mengenal Sumba hanya dari foto sabana dan pantainya, Pasola bisa memberikan perspektif yang berbeda. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Sumba mempertahankan hubungan dengan leluhur, alam, dan kehidupan agraris melalui ritual yang diwariskan dari generasi ke generasi. Jadi, saat merencanakan perjalanan ke Sumba, jangan hanya mencari destinasi alam. Luangkan waktu untuk mengenal tradisi yang membuat pulau ini punya karakter begitu kuat.
Pasola adalah tradisi perang adat yang mempertemukan dua kelompok penunggang kuda. Mereka akan berhadapan sambil menunggangi kuda khas Sumba tanpa pelana dan saling melempar tombak kayu. Para penunggang yang mengikuti Pasola bukan peserta sembarangan. Mereka merupakan laki-laki terpilih yang memiliki keberanian dan keterampilan berkuda.
Dari kejauhan, suasananya mungkin terlihat seperti pertandingan berkuda yang penuh adrenalin. Kuda berlari cepat, penunggang saling mengejar, dan tombak kayu melayang di antara kedua kelompok. Namun, kalau kamu melihatnya lebih dekat, Pasola sebenarnya bukan sekadar permainan atau pertunjukan. Tradisi ini merupakan bagian dari rangkaian ritual adat yang berkaitan dengan kepercayaan Marapu dan kehidupan pertanian masyarakat Sumba. Pasola dipercaya memiliki hubungan dengan harapan akan kesuburan tanah dan keberhasilan panen.

Nama Pasola dipercaya berasal dari kata “sola” atau “hola”, yaitu sebutan untuk tongkat kayu panjang yang digunakan seperti tombak dalam permainan tersebut. Dari sinilah istilah Pasola kemudian digunakan untuk menyebut tradisi perang berkuda yang menjadi salah satu ritual khas Sumba.
Menariknya, Pasola tidak berdiri sendiri. Tradisi ini merupakan bagian dari rangkaian ritual yang berkaitan dengan Bulan Nyale atau Wulan Nyale. Karena itu, waktu pelaksanaannya mengikuti perhitungan adat dan dapat berbeda setiap tahunnya.
Hal ini juga yang membuat pengalaman menyaksikan Pasola terasa berbeda dari festival yang memiliki tanggal tetap setiap tahun. Ada rangkaian tradisi dan pertimbangan adat yang perlu dilalui sebelum Pasola akhirnya digelar.

Di balik aksi saling melempar tombak, terdapat filosofi yang cukup dalam. Bagi masyarakat Sumba, Pasola berkaitan dengan kehidupan agraris dan harapan terhadap kesuburan tanah.
Darah yang tertumpah selama pelaksanaan Pasola secara tradisional dipercaya menjadi simbol kesuburan dan kemakmuran. Karena itu, hal yang mungkin terlihat cukup ekstrem bagi wisatawan justru memiliki makna tersendiri dalam konteks kepercayaan masyarakat setempat.
Kuda menjadi bagian penting dari tradisi ini karena para penunggang akan beradu kecepatan dan ketangkasan di atas kuda tanpa pelana. Kuda Sumba sendiri sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di pulau ini. Ras kuda lokal tersebut dikenal sebagai salah satu karakter khas Sumba dan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat maupun berbagai tradisi lokal.
Inilah salah satu hal yang membuat Pasola berbeda dari festival budaya pada umumnya. Kamu tidak hanya sedang menyaksikan atraksi berkuda, tetapi juga melihat bagian dari sistem kepercayaan dan kehidupan masyarakat yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Salah satu hal menarik dari tradisi Pasola adalah rangkaian ritual yang mengiringinya. Di Sumba Barat, misalnya, rangkaian kegiatan dapat mencakup Pajura atau tinju tradisional, latihan kuda Pasola, Bau Nyale, hingga pelaksanaan Pasola utama.
Di kawasan Wanukaka, ritual adat bahkan dilakukan sebelum permainan dimulai. Pemuka adat atau rato melakukan rangkaian prosesi yang berkaitan dengan Marapu dan membaca tanda-tanda tertentu untuk menentukan pelaksanaan Pasola. Salah satu bagian ritual juga berkaitan dengan pencarian nyale di laut.
Karena itu, jika kamu berkesempatan datang ke Sumba saat musim Pasola, jangan hanya mencari jadwal pertandingan utamanya. Menyaksikan rangkaian tradisinya juga bisa memberikan pengalaman yang jauh lebih lengkap untuk memahami budaya Sumba.

Pasola biasanya berlangsung sekitar Februari hingga Maret, bertepatan dengan periode Bulan Nyale atau Wulan Nyale. Namun, kamu perlu memperhatikan satu hal penting. Tidak ada satu tanggal tetap yang bisa dijadikan patokan setiap tahun.
Pelaksanaan Pasola mengikuti kalender dan penentuan adat setempat. Lokasi serta harinya pun dapat berbeda. Di Sumba Barat, salah satu kawasan yang dikenal dengan tradisi ini adalah Wanukaka.
Wilayah Sumba Barat menjadi salah satu kawasan yang terkenal dengan tradisi Pasola. Wanukaka termasuk lokasi yang menarik untuk kamu masukkan ke dalam rencana perjalanan, terutama kalau tujuanmu bukan sekadar melihat festival, tetapi juga ingin mengenal sisi budaya Sumba lebih dekat.
Pasola merupakan bagian dari ritual adat yang memiliki nilai spiritual bagi masyarakat Sumba. Karena itu, ketika menyaksikannya secara langsung, penting untuk menghormati aturan setempat, menjaga jarak aman, mengikuti arahan masyarakat atau penyelenggara, dan tidak mengganggu jalannya ritual.

Sumba memang punya banyak alasan untuk dikunjungi. Kamu bisa mengejar matahari terbenam di pantai, menyusuri sabana, mengunjungi desa adat, atau berburu kain tenun ikat. Namun, jika ingin melihat sisi Sumba yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakatnya, menyaksikan tradisi Pasola bisa menjadi pengalaman yang berbeda.
Bayangkan datang ketika suasana Sumba sedang memasuki musim ritual, lalu melihat penunggang kuda melaju di lapangan dengan pakaian adat dan tombak kayu di tangan. Di belakangnya ada lanskap Sumba yang luas, sementara di sekelilingmu masyarakat berkumpul mengikuti tradisi yang telah berlangsung lintas generasi. Pengalaman seperti inilah yang membuat perjalanan ke Sumba terasa lebih dari sekadar liburan.
Setelah puas mengeksplorasi tradisi dan berbagai destinasi di Sumba, tentu kamu membutuhkan tempat nyaman untuk beristirahat. Rencanakan perjalanan kamu di Sumba bersama OYO dan temukan pilihan akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan perjalananmu, mulai dari hotel murah dan penginapan praktis hingga properti dengan fasilitas yang lebih lengkap untuk kamu yang ingin menikmati perjalanan dengan lebih nyaman.
Sebelum berangkat, kamu juga bisa mengecek harga hotel, lokasi, fasilitas, dan ketersediaan kamar melalui aplikasi OYO. Dengan begitu, kamu bisa lebih mudah menemukan hotel terdekat dari area perjalananmu dan memesan kamar sesuai tanggal kunjungan.
Jadi, sudah siap melihat Sumba dari sisi yang berbeda? Cek aplikasi OYO sekarang, pilih penginapan yang sesuai budget dan kebutuhanmu, lalu mulai rencanakan petualangan untuk menyaksikan Pasola dan mengenal lebih dekat budaya Sumba.
Please go back to portrait mode for the best experience
Comments are closed here.