Select Country
Select Country

Simbol Penghormatan dan Melepaskan, Mengenal Festival Tabuik di Pariaman

Kalau kamu datang ke Pariaman saat bulan Muharram, kamu akan langsung merasakan bahwa ini bukan liburan biasa. Kota kecil di pesisir Sumatera Barat ini berubah menjadi pusat perayaan budaya yang penuh emosi dan energi. Inilah yang dikenal sebagai Festival Tabuik Pariaman, salah satu tradisi budaya paling unik di Indonesia.

Apa Itu Tradisi Tabuik Pariaman? Sejarah, Asal-Usul, dan Makna di Baliknya

Tabuik adalah ritual tahunan yang digelar setiap tanggal 10 Muharram untuk mengenang wafatnya Husain bin Ali dalam peristiwa Karbala. Peristiwa ini menjadi titik penting dalam sejarah Islam, dan di Pariaman, kisah tersebut diwujudkan dalam bentuk tradisi yang tidak hanya sakral, tapi juga sangat visual dan dramatis.

Kata Tabuik berasal dari kata tabut yang berarti peti atau keranda. Dalam praktiknya, Tabuik berbentuk bangunan tinggi yang dihias rumit dengan warna-warna mencolok, lengkap dengan ornamen khas dan bagian puncak berbentuk makhluk bersayap. Banyak yang datang hanya untuk melihat bentuknya, tapi sebenarnya maknanya jauh lebih dalam. Tabuik melambangkan perjalanan arwah, duka cita, sekaligus penghormatan.

Festival Tabuik di Pariaman telah menarik ratusan ribu kunjungan baik dari ranah maupun rantau. (suararantau.com)

Sejarah Tabuik di Pariaman juga menarik. Tradisi ini diyakini dibawa oleh komunitas keturunan India pada masa kolonial, lalu beradaptasi dengan budaya Minangkabau. Dari situ, lahirlah bentuk Tabuik yang kamu lihat sekarang, perpaduan antara nilai religi, tradisi lokal, dan ekspresi kolektif masyarakat.

Rangkaian Ritual Tabuik yang Jarang Diketahui Wisatawan

Festival Tabuik bukan hanya tentang satu hari puncak. Ada rangkaian prosesi panjang yang membuat pengalaman ini terasa utuh dan lebih bermakna.
Ritual dimulai dengan pengambilan tanah yang melambangkan asal-usul manusia. Proses ini terlihat sederhana, tapi menjadi fondasi simbolis dari seluruh rangkaian. Setelah itu, ada prosesi penebangan batang pisang yang melambangkan kematian.
Memasuki tahap berikutnya, bagian-bagian Tabuik mulai diarak dalam prosesi yang disebut jari-jari. Di sini, kamu mulai melihat bagaimana masyarakat terlibat secara langsung. Musik gandang tasa dimainkan cepat dan berulang, menciptakan atmosfer yang intens dan hampir membuat siapa pun ikut larut.
Puncaknya adalah hoyak tabuik, momen ketika struktur besar itu diguncang bersama-sama oleh puluhan orang. Suasana menjadi sangat emosional, penuh sorakan, energi, dan gerakan yang tidak bisa kamu temukan di festival lain.
Rangkaian ini ditutup dengan prosesi pembuangan Tabuik ke laut. Setelah semua keramaian, momen ini justru terasa paling sunyi. Tabuik perlahan menjauh, dan di situlah makna pelepasan benar-benar terasa.

Suasana Festival Tabuik di Pariaman pada tahun 2024 lalu (hypeabis.id/Adi Prima)

Itinerary 3 Hari 2 Malam ke Pariaman Saat Festival Tabuik

Kalau kamu ingin merasakan Festival Tabuik secara maksimal, datang hanya di hari puncak tidak cukup. Idealnya, kamu mengalokasikan waktu tiga hari dua malam agar bisa mengikuti seluruh rangkaian ritual Tabuik Pariaman.

Di hari pertama, perjalananmu dimulai dari Padang. Dari Bandara Internasional Minangkabau, kamu bisa langsung menuju Pariaman dengan waktu tempuh sekitar satu hingga satu setengah jam. Sepanjang perjalanan, pemandangan pesisir Sumatera Barat akan menjadi pembuka yang menyenangkan.
Sesampainya di Pariaman, gunakan waktu untuk check-in di hotel dan eksplorasi ringan. Kamu bisa berjalan santai di pantai Pariaman sambil menikmati suasana yang masih relatif tenang. Ini adalah waktu terbaik untuk beradaptasi sebelum festival mencapai puncaknya.

Hari kedua adalah saat kamu mulai masuk ke dalam pengalaman utama Festival Tabuik. Pagi hari, kamu bisa mengunjungi lokasi pembuatan Tabuik dan melihat prosesnya secara langsung. Ini juga menjadi momen yang bagus untuk memahami detail struktur dan maknanya.
Siang hingga sore hari, berbagai prosesi arak-arakan mulai berlangsung. Kamu akan melihat langsung bagaimana jalanan Pariaman berubah menjadi ruang perayaan budaya. Musik tradisional, kerumunan masyarakat, dan energi kolektif menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Malam hari, suasana menjadi lebih santai dan hangat. Banyak pilihan kuliner khas Minang yang bisa kamu coba. Ini juga saat yang tepat untuk menikmati sisi lain Pariaman yang lebih personal dan dekat dengan kehidupan lokal.

Hari ketiga adalah puncak Festival Tabuik. Sejak pagi, kamu sebaiknya sudah berada di lokasi utama untuk mendapatkan spot terbaik. Dua Tabuik besar akan diarak hingga akhirnya bertemu, dan di sinilah momen hoyak tabuik terjadi.
Menjelang sore, semua bergerak menuju pantai untuk prosesi terakhir. Tabuik dilepaskan ke laut sebagai simbol pelepasan. Momen ini menjadi penutup yang emosional dan sering kali menjadi highlight bagi wisatawan yang datang.

Suasana Tujuh Ritual di Festival Tabuik Pariaman 2017 (batampos.co.id)

Rekomendasi Menginap di Pariaman dan Padang untuk Festival Tabuik

Setelah mengikuti rangkaian Festival Tabuik yang padat dan penuh emosi, kamu tentu membutuhkan tempat istirahat yang nyaman. Di sekitar Pariaman dan Padang, kamu bisa menemukan berbagai pilihan hotel OYO yang cocok untuk liburan keluarga maupun solo trip.

Lokasi hotel-hotel OYO tersebar strategis, mulai dari dekat pantai Pariaman hingga pusat kota Padang. Ini memudahkan kamu untuk mengakses lokasi festival sekaligus menikmati destinasi wisata lain di Sumatera Barat.

Kalau kamu sedang merencanakan perjalanan ke Festival Tabuik, ini saat yang tepat untuk mulai booking penginapan lebih awal. Kamu bisa langsung cek berbagai pilihan hotel OYO melalui aplikasi dan menemukan opsi terbaik sesuai budget dan kebutuhan, seperti Townhouse Oak Padang near RTH Imam Bonjol, Townhouse Oak Polamas Residence, atau Collection O Padang City De Orchids

Menginap nyaman di Townhouse Oak Padang

Eksplor lebih banyak properti sekarang juga di aplikasi OYO, dan siapkan perjalananmu ke Festival Tabuik Pariaman dengan lebih praktis dan nyaman.

Comments are closed here.

Please rotate your device

Please go back to portrait mode for the best experience