Sukabumi sering kali hanya dilewati sebagai jalur menuju destinasi lain di Jawa Barat. Padahal, kalau kamu mau sedikit melambat dan masuk lebih dalam, wilayah ini menyimpan banyak hidden gem yang masih jarang dijamah wisatawan. Terletak di bagian selatan Jawa Barat dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, Sukabumi punya kombinasi lanskap yang lengkap, mulai dari pegunungan, hutan purba, air terjun tinggi, hingga garis pantai yang masih liar. Salah satu pintu masuk paling populer adalah kawasan Situ Gunung di kaki Gunung Gede Pangrango yang biasanya buka dari pagi hingga sore hari dengan tiket masuk yang relatif terjangkau. Aksesnya pun cukup mudah dari Jakarta, sekitar 3 sampai 4 jam perjalanan darat. Dari sini, perjalanan menuju sisi lain Sukabumi akan terasa seperti membuka lapisan demi lapisan keindahan yang belum banyak orang tahu.
Perjalanan kamu dimulai dari Situ Gunung Suspension Bridge, jembatan gantung yang sempat viral karena panjangnya dan pemandangan hutan di sekelilingnya. Tapi pengalaman sebenarnya justru dimulai setelah kamu menyeberang. Dari sini, kamu bisa lanjut trekking ke jalur Lembah Purba yang masih terasa sangat alami. Jalannya tidak terlalu ekstrem, tapi cukup membuat kamu merasa seperti masuk ke dunia yang berbeda.
Udara di sini cenderung lembap dan dingin, dengan kabut tipis yang sering turun di sela pepohonan tinggi. Sepanjang perjalanan, kamu akan mendengar suara air dan serangga hutan yang konstan, membuat suasananya terasa sangat hidup. Di ujung jalur, kamu akan menemukan air terjun kembar yang tersembunyi, seolah menjadi hadiah setelah berjalan cukup jauh.
Sore harinya, kamu bisa kembali ke area depan untuk bersantai sambil menikmati camilan lokal seperti gorengan hangat atau kopi sederhana. Malamnya, pengalaman menginap di glamping area sekitar kaki Gunung Gede Pangrango akan jadi penutup yang pas. Suasana sunyi, udara dingin, dan langit yang lebih bersih membuat malam pertama terasa sangat berbeda dari rutinitas harian kamu.
Pagi hari kedua dimulai dengan perjalanan menuju selatan, ke kawasan Geopark Ciletuh yang terkenal dengan bentang alam purbanya. Kawasan Geopark memiliki banyak spot air terjun, salah satunya adalah Curug Cimarinjing. Perjalanan menuju Curug Cimarinjung memang cukup panjang, tapi sepanjang jalan kamu akan disuguhi pemandangan perbukitan dan sawah yang membuat perjalanan terasa tidak membosankan.
Saat sampai di Curug Cimarinjung, kesan pertama yang muncul biasanya adalah rasa kecil. Air terjun ini jatuh dari tebing tinggi sekitar 100 meter, dengan aliran air yang cukup deras terutama saat musim hujan. Dikelilingi vegetasi hijau dan batuan besar, tempat ini terasa seperti lokasi yang belum banyak berubah sejak dulu.
Siang harinya, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke arah Palabuhanratu dan mencoba pengalaman yang tidak banyak diketahui orang, yaitu menyeberang ke Pulau Kunti. Dengan perahu dari pesisir, kamu akan sampai di pulau kecil dengan pasir berwarna kontras hitam dan putih. Tempat ini relatif sepi, jadi kamu bisa benar-benar menikmati suasana tanpa keramaian.
Menjelang malam, kembali ke daratan dan mampir ke warung lokal di pinggir pantai untuk makan ikan bakar segar. Sederhana, tapi justru di situ letak kenikmatannya. Suara ombak, angin laut, dan makanan hangat jadi kombinasi yang sulit dilupakan.
Hari terakhir membawa kamu ke sisi lain Sukabumi yang lebih dramatis. Pantai Cicaladi dikenal sebagai salah satu pantai tersembunyi dengan karakter garis pantai berbatu dan ombak besar khas selatan. Banyak orang menyebutnya sebagai versi “liar” dari Tanah Lot, karena ada formasi batu karang yang menonjol di tengah laut dengan ombak yang terus menghantam.
Tidak seperti pantai populer lainnya, di sini kamu tidak akan menemukan banyak fasilitas. Justru itu yang membuatnya terasa spesial. Kamu bisa duduk di atas tebing, melihat deburan ombak yang terus menerjang tanpa henti, dan merasakan suasana yang benar-benar tenang sekaligus kuat.
Setelah puas menikmati pantai, perjalanan kembali ke kota Sukabumi bisa jadi momen penutup yang santai. Jangan lupa mampir untuk membeli mochi khas Sukabumi sebagai oleh-oleh. Rasanya sederhana, tapi selalu jadi pengingat perjalanan yang baru saja kamu lalui.
Tiga hari di Sukabumi mungkin terasa singkat, tapi cukup untuk memberi kamu pengalaman yang berbeda dari liburan biasa. Dari hutan berkabut, air terjun raksasa, hingga pantai liar yang masih alami, semuanya terasa seperti perjalanan yang lebih personal dan tidak terlalu ramai.
Kalau kamu sudah mulai membayangkan perjalanan ini, sekarang saatnya mulai merencanakan semuanya dengan lebih matang. OYO menyediakan berbagai pilihan akomodasi di Sukabumi, mulai dari hotel dengan nuansa nyaman di pusat kota hingga penginapan dekat alam yang cocok untuk kamu yang ingin lebih dekat dengan nature. Beberapa pilihan yang bisa kamu pertimbangkan antara lain Collection O di area strategis kota, Capital O dengan fasilitas lengkap, hingga hotel dengan fasilitas premium seperti Sunday, Belvilla, Townhouse Oak yang tetap nyaman untuk beristirahat setelah seharian eksplor.
Cek pilihan hotel yang sesuai dengan gaya perjalanan kamu langsung di aplikasi OYO, dan mulai susun itinerary Sukabumi versi kamu sendiri. Petualangan yang tenang, liar, dan penuh kejutan ini sudah menunggu.
Setiap bulan Agustus, suasana di berbagai sudut Indonesia biasanya berubah menjadi lebih meriah. Bendera merah…
Kalau kamu sedang berada di Yogyakarta saat 17 Agustus, ada satu pengalaman yang rasanya sayang…
Bayangkan laut sebening kaca, penyu yang berenang bebas di antara terumbu karang, ikan warna-warni, hingga…
Budaya di Kalimantan selalu punya akar yang kuat pada alam. Dari hutan hujan tropis hingga…
Ada banyak pantai di Gunungkidul, tapi tidak semuanya memberi pengalaman yang benar benar terasa berbeda…
Budaya Sumatera Barat selalu punya cara untuk bikin kamu penasaran. Dari kuatnya adat Minangkabau hingga…