Kalau kamu mengenal Depok hanya sebagai kota penyangga Jakarta yang ramai dengan kampus, perumahan, dan pusat perbelanjaan, sebenarnya ada sisi lain kota ini yang jauh lebih tua dari yang kamu bayangkan. Depok menyimpan jejak sejarah yang sudah berusia ratusan tahun. Jika kamu berjalan ke kawasan Depok Lama, kamu akan menemukan potongan cerita masa kolonial Belanda yang masih bertahan hingga sekarang, mulai dari jembatan tua, gereja bersejarah, hingga bangunan bergaya arsitektur Eropa yang masih berdiri di antara permukiman warga.
Kawasan yang sering disebut sebagai Belanda Depok ini berada tidak jauh dari Stasiun Depok Lama, tepatnya di Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoranmas. Di area inilah berbagai peninggalan sejarah kolonial masih bisa ditemukan, seolah menjadi pengingat bahwa kota ini pernah memiliki kisah yang sangat berbeda dari Depok yang kita kenal hari ini.
Sejarah kawasan ini berkaitan erat dengan Cornelis Chastelein, seorang pejabat VOC yang kemudian memilih meninggalkan pekerjaannya dan beralih menjadi pemilik tanah di sekitar Batavia pada akhir abad ke-17. Ia membeli beberapa wilayah, termasuk Depok pada tahun 1696, dan mengembangkan kawasan tersebut sebagai lahan pertanian yang luas.
Untuk mengelola lahan tersebut, Chastelein membawa pekerja dari berbagai daerah di Nusantara. Menjelang akhir hidupnya pada tahun 1714, ia membuat keputusan yang tidak biasa pada masa itu: membebaskan para pekerjanya sekaligus mewariskan tanah serta identitas keluarga kepada mereka. Dari sinilah muncul dua belas marga yang kemudian dikenal sebagai komunitas “Belanda Depok”, seperti Bacas, Laurens, Leander, Jonathans, hingga Soedira. Keturunan marga-marga ini masih dikenal dalam sejarah Depok hingga sekarang, meskipun ada beberapa yang sudah tidak lagi memiliki penerus.
Di kawasan Depok Lama, kamu masih bisa melihat beberapa bangunan yang mempertahankan gaya arsitektur kolonial. Ciri khasnya terlihat dari jendela-jendela besar dan atap tinggi yang dirancang agar cocok dengan iklim tropis.
Sebagian bangunan memang sudah mengalami perubahan fungsi, tetapi beberapa tetap dijaga sebagai bagian dari warisan sejarah kota. Salah satunya adalah gedung yang kini digunakan oleh Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), sebuah organisasi yang sejak lama berperan menjaga situs-situs bersejarah di kawasan ini.

Salah satu landmark bersejarah yang cukup terkenal di Depok adalah Jembatan Panus yang melintasi Sungai Ciliwung. Jembatan ini dibangun pada tahun 1917 oleh seorang insinyur Belanda bernama Andre Laurens.
Nama Panus sendiri dipercaya berasal dari nama Stevanus Leander, warga yang dahulu tinggal di sekitar lokasi jembatan. Selama lebih dari seratus tahun, jembatan ini tidak hanya menjadi penghubung antarwilayah, tetapi juga menjadi saksi perkembangan Depok dari masa kolonial hingga menjadi kota penyangga Jakarta seperti sekarang.

Tak jauh dari kawasan tersebut, terdapat GPIB Immanuel, salah satu bangunan keagamaan tertua di Depok. Jejak komunitas Kristen di tempat ini sudah ada sejak awal 1700-an, ketika wilayah tersebut digunakan sebagai tempat belajar membaca dan menulis dengan Alkitab sebagai media pembelajaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/GPIB-Immanuel-kawasan-bersejarah-Depok-atau-Depok-Heritage.jpg)
Pendekatan pendidikan ini menjadi cara Cornelis Chastelein memperkenalkan agama Kristen kepada masyarakat setempat. Komunitas tersebut kemudian berkembang dan pada pertengahan abad ke-18 resmi menjadi gereja Protestan yang dikenal sebagai De Protestantsche Kerk te Depok. Setelah Indonesia merdeka, gereja ini bergabung dengan sinode GPIB dan tetap aktif hingga sekarang.
Selain gereja dan jembatan tua, Depok juga memiliki beberapa situs bersejarah lain yang menarik untuk dikunjungi. Di depan Rumah Sakit Harapan Depok berdiri monumen Cornelis Chastelein yang dibangun pada masa kolonial dan kini dikenal sebagai titik nol kilometer kota.

Ada pula Rumah Cimanggis yang dibangun pada abad ke-18 dan pernah menjadi kediaman keluarga pejabat VOC. Saat ini bangunan tersebut telah dipugar dan difungsikan sebagai museum yang menyimpan berbagai cerita tentang masa lalu Depok.

Di Jalan Kartini, kamu juga bisa menemukan tiang telepon tua yang berdiri sejak tahun 1900. Tiang besi ini pernah menjadi bagian dari sistem komunikasi awal di Hindia Belanda dan kini menjadi salah satu penanda perkembangan teknologi pada masa itu.
Menjelajahi sisi sejarah Depok memberi pengalaman yang berbeda dari sekadar melihat kota modern. Di balik jalanan ramai dan kawasan urban yang terus berkembang, ternyata ada lapisan sejarah panjang yang membentuk identitas kota ini. Jika kamu menyukai perjalanan yang penuh cerita, menyusuri kawasan Depok Lama bisa menjadi cara menarik untuk melihat bagaimana masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu kota.
Setelah puas menjelajahi berbagai sudut kota Depok dan destinasi bersejarah seperti ini, perjalananmu tentu akan terasa lebih nyaman dengan akomodasi yang praktis, untuk liburan maupun perjalanan bisnis. Kamu bisa menemukan banyak pilihan hotel nyaman dari OYO, seperti Hotel O Depok.

Mulai dari hotel dekat pusat wisata hingga penginapan strategis di kawasan kota, kamu bisa memilih akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan perjalananmu. Yuk, eksplor berbagai pilihan properti dan cek hotel favoritmu langsung melalui aplikasi OYO sekarang juga!
Please go back to portrait mode for the best experience
Comments are closed here.