Budaya Bali punya cara unik untuk tetap hidup di tengah perubahan zaman. Berakar kuat pada nilai spiritual, tradisi, dan hubungan manusia dengan alam, kebudayaan Bali tidak hanya dikenal lewat pura dan upacaranya, tetapi juga melalui berbagai kesenian yang masih dijaga hingga kini. Salah satunya adalah Tari Sanghyang Dedari Bali, tarian sakral yang menyimpan kisah tentang kepercayaan, keselamatan, dan hubungan manusia dengan dunia spiritual. Bukan sekadar tontonan, tarian ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
Tari Sanghyang Dedari adalah salah satu tari sakral Bali yang dipercaya berkaitan dengan kehadiran roh suci atau hyang. Tarian ini umumnya dibawakan oleh anak perempuan yang belum akil balig dan dalam prosesi tertentu mereka dipercaya mengalami kondisi trance atau kerauhan. Dalam keadaan tersebut, gerakan yang dilakukan bukan dianggap sebagai hasil latihan tari biasa, melainkan bagian dari ritual spiritual.
Nama “Dedari” sendiri berkaitan dengan sosok bidadari. Dalam kepercayaan masyarakat yang menjalankan tradisi ini, kehadiran Sanghyang Dedari dipercaya membawa anugerah, ketenangan, perlindungan, dan membantu menetralisir hal-hal negatif yang mengganggu kehidupan masyarakat.
Karena sifatnya yang sakral, Sanghyang Dedari termasuk tradisi yang memiliki aturan khusus mengenai penari, tempat, waktu, hingga rangkaian ritualnya. Jadi, kalau kamu kebetulan menemukan pertunjukan ini ketika berkunjung ke Bali, penting untuk memahami bahwa kamu sedang menyaksikan bagian dari tradisi keagamaan, bukan pertunjukan tari biasa.
Sanghyang Dedari memiliki akar yang sangat tua dalam kebudayaan Bali dan dikaitkan dengan tradisi yang sudah berkembang sejak masa pra-Hindu berdasarkan filosofi Lontar Tantu Pagelaran. Dalam perkembangannya, tarian ini menjadi bagian dari ritual masyarakat untuk memohon keselamatan sekaligus menolak bala.
Salah satu kisah yang dikenal mengenai asal-usulnya datang dari Desa Bona, Blahbatuh, Gianyar. Konon, desa tersebut pernah mengalami wabah penyakit yang sulit diatasi. Ketika beberapa anak perempuan bernyanyi lagu Sanghyang di sekitar Pura Puseh setelah upacara keagamaan, salah seorang dari mereka mulai menari dan kemudian mengalami kerauhan. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu latar yang mendorong masyarakat mensakralkan tarian Sanghyang Dedari sebagai ritual untuk memohon perlindungan bagi desa.
Cerita tentang penolak bala juga masih terlihat dalam praktik Sanghyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem. Di sana, tarian ini berkaitan erat dengan ritual pertanian dan padi taun. Ketika bulir padi mulai muncul, masyarakat melakukan ritual Sanghyang Dedari untuk memohon agar tanaman terlindungi dari hama.
Ada juga cerita dari Desa Anturan di Buleleng, dahulu dikenal sebagai Banjar Asatabut yang awalnya tumbuh dari tempat persinggahan rombongan kerajaan serta pemukiman para pedagang (pengalu) hingga berkembang pesat mendirikan Pemaksan serta Pura Kahyangan Tiga sekitar tahun 1800-an. Hingga kini, tokoh adat dan seniman setempat aktif memelopori upaya rekonstruksi tarian yang hampir punah dan tidak pernah dipentaskan selama lebih dari 200 tahun melalui pengumpulan nyanyian suci kuno hingga berhasil menampilkan kembali tarian sakral ini.
Kalau dilihat lebih dalam, filosofi Tari Sanghyang Dedari tidak hanya berkaitan dengan hal-hal mistis. Di balik ritualnya terdapat nilai tentang bagaimana masyarakat Bali memandang hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan kekuatan yang lebih besar dari dirinya.
Ritual ini menjadi bentuk permohonan agar kehidupan masyarakat tetap berada dalam keadaan seimbang. Dalam konteks masyarakat agraris, misalnya, keselamatan tanaman berarti keberlangsungan hidup seluruh desa. Karena itu, Sanghyang Dedari juga menjadi simbol rasa syukur sekaligus harapan agar kehidupan tetap berjalan harmonis.
Nilai seperti inilah yang membuat tradisi Bali terasa begitu rooted. Bagi masyarakat yang menjalankannya, budaya bukan sesuatu yang hanya disimpan di museum. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari, dalam upacara, pertanian, ruang desa, hingga hubungan antarmasyarakat.
Salah satu hal paling menarik dari Sanghyang Dedari adalah pemilihan penarinya. Dalam tradisi di Geriana Kauh, penari dipilih dari anak-anak perempuan yang belum mengalami menstruasi karena dianggap masih suci. Jumlah penari dapat berkisar antara lima hingga tujuh orang dan pemilihannya dilakukan beberapa waktu sebelum ritual.
Yang membuatnya semakin berbeda, para penari tidak menjalani latihan koreografi seperti penari pada umumnya. Ketika ritual berlangsung, mereka dipercaya berada dalam keadaan trance sehingga gerakannya muncul sebagai bagian dari proses spiritual.
Dalam beberapa bentuk pementasan, mata penari tetap terpejam selama menari. Ada pula tradisi di mana penari dibawa atau diangkat oleh laki-laki ketika melakukan gerakan tari. Iringan berupa nyanyian atau gending Sanghyang juga menjadi bagian penting dari prosesi.
Kombinasi antara suasana malam, dupa, nyanyian ritual, dan penari yang bergerak dalam kondisi trance membuat pengalaman menyaksikan Sanghyang Dedari terasa sangat berbeda dari pertunjukan tari Bali yang biasa kamu temui di panggung wisata.
Sanghyang Dedari tidak hanya ditemukan di satu wilayah Bali. Tradisi ini berkembang di sejumlah desa dengan bentuk dan konteks ritual yang dapat berbeda. Salah satu lokasi yang masih dikenal menjalankan tradisi ini adalah Desa Adat Geriana Kauh di Karangasem. Di tempat ini, Sanghyang Dedari menjadi bagian dari rangkaian ritual tahunan yang berhubungan dengan padi taun. Pementasannya dilakukan ketika padi mulai mengeluarkan bulir, yang biasanya berlangsung sekitar sasih Kedasa atau sekitar April.
Tradisi Sanghyang Dedari juga dikaji dan dilestarikan di Banjar Behu, Desa Bunga Mekar, Nusa Penida. Menurut Dinas Kebudayaan Kabupaten Klungkung, tarian sakral tersebut dipentaskan dalam konteks pujawali maupun sebagai ungkapan syukur ketika permohonan masyarakat terkabul. Karena merupakan bagian dari ritual adat dan keagamaan, tidak ada jadwal pertunjukan harian seperti tari Bali yang memang ditujukan untuk wisatawan. Waktu pementasannya mengikuti kalender dan kebutuhan ritual masyarakat setempat. Jadi, kalau kamu ingin menyaksikannya secara langsung, sebaiknya mencari informasi terlebih dahulu dan menghormati aturan desa adat yang berlaku.
Tari Sanghyang Dedari umumnya bisa ditonton wisatawan, namun konteksnya perlu kita pahami terlebih dahulu. Dalam perkembangannya, Sanghyang Dedari memang pernah ditampilkan dalam konteks pariwisata. Namun, versi ritualnya tetap memiliki posisi sakral bagi masyarakat. Sejumlah penelitian juga mencatat adanya perubahan fungsi Sanghyang Dedari seiring berkembangnya pariwisata Bali, dari tari yang terutama berkaitan dengan upacara menjadi kesenian yang pada beberapa tempat juga dipentaskan untuk wisatawan.
Karena itu, jangan menganggap setiap pertunjukan Sanghyang Dedari sebagai atraksi wisata yang bisa kamu datangi kapan saja. Kalau kamu berkesempatan melihat ritual aslinya, posisikan diri sebagai tamu yang sedang menyaksikan tradisi masyarakat. Hindari mengambil foto atau video tanpa izin, terutama ketika prosesi sedang berlangsung di area sakral. Justru di situlah pengalaman budaya Bali terasa lebih berkesan. Kamu tidak hanya melihat sebuah tarian, tetapi memahami cerita dan nilai yang membuat tradisi tersebut tetap bertahan.
Bali selalu punya cerita di balik tempat-tempat yang kamu kunjungi. Setelah mengenal Sanghyang Dedari, kamu bisa melanjutkan perjalanan dengan menjelajahi desa adat, pura, kawasan seni, pantai, hingga sudut-sudut Bali yang menyimpan tradisi lokal lainnya.
Untuk urusan menginap, kamu bisa merencanakan perjalananmu bersama OYO, dengan pilihan properti mulai dari akomodasi yang ramah budget hingga pilihan yang lebih premium. Beberapa pilihan hotel premium yang bisa kamu pertimbangkan, seperti Sunday Hotel Arshika Sunset Road, Palette Argya Santi Suites And Villas, Palette Hotel Seminyak, Palette Legian Beach atau Townhouse Oak The Vinhill Studio
Jadi, sudah siap melihat Bali dari sisi yang berbeda? Mulai dari tradisi yang sakral sampai petualangan di berbagai penjuru Pulau Dewata, pilih penginapan yang sesuai dengan perjalananmu dan cek pilihan hotel OYO di aplikasi OYO sekarang juga.
Budaya Sunda memiliki hubungan yang begitu dekat dengan alam. Bagi masyarakat Sunda, alam bukan sekadar…
Kalau mendengar nama Cikarang, yang mungkin langsung terbayang adalah kawasan industri, gedung perkantoran, dan deretan…
Bayangkan kamu sedang berada di tengah laut, lalu perlahan perahu berhenti di sebuah hamparan pasir…
Bayangkan memulai pagi dengan sunrise, menghabiskan siang bermain di laut jernih, lalu menutup hari dengan…
Sulawesi Selatan punya banyak tradisi budaya yang tumbuh dari akar kehidupan masyarakatnya, termasuk tradisi yang…
Indonesia punya kebudayaan yang begitu banyak, dari tradisi masyarakat pesisir hingga warisan kerajaan dan kesultanan…