Indonesia adalah negeri multikultural yang kaya akan tradisi dan warisan budaya. Salah satu wujud harmonisasi budaya yang paling menarik adalah masjid-masjid yang menggabungkan unsur Tionghoa dalam arsitekturnya. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai saksi perjalanan sejarah Islam yang berbaur dengan budaya setempat. Dari utara Sumatra sampai Jawa dan luar itu lagi, masjid-masjid ini menghadirkan pengalaman wisata religi yang unik buat kamu yang suka eksplor cerita sejarah dan keindahan bangunan!
Kalau kamu pernah ke Surabaya, pasti sudah familiar dengan masjid ikonik ini. Berdiri megah dengan ornamen bernuansa Tionghoa, bangunan ini terinspirasi dari sosok Laksamana Cheng Ho (Zheng He), seorang navigator Muslim keturunan Tionghoa yang berkelana ke Nusantara pada abad ke-15. Desain atapnya yang mirip pagoda, ornamen naga, dan warna merah jadi daya tarik tersendiri sekaligus simbol toleransi dan dialog antarbudaya.
Tidak jauh berbeda, di Palembang kamu bisa mengunjungi “Masjid Cheng Ho” yang dibangun dengan kombinasi budaya Tionghoa, Islam, dan lokal Sriwijaya. Masjid ini awalnya dibangun oleh komunitas China Muslim dan kini dikenal sebagai simbol jembatan antara komunitas berbagai etnis. Detil warna bangunan yang memadukan merah, hijau, dan kuning mencerminkan semangat inklusif yang ditawarkan bangunan ini kepada pengunjung.
Selain Surabaya dan Palembang, banyak kota lain juga memiliki versi Masjid Cheng Hoo, seperti di Batam, Jember, Pasuruan, Pandaan, Purbalingga, dan Banyuwangi. Walaupun setiap bangunan punya ciri khas lokalnya, semuanya tetap membawa unsur Tionghoa dalam bentuk atap, warna, dan ornamen, sekaligus jadi magnet wisata religi bagi pengunjung.
Lasem dikenal sebagai “Tiongkok Kecil” di Jawa, dan di sana berdiri Masjid Tjia Kang Hoo yang erat dengan komunitas Muslim Tionghoa. Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga punya cerita panjang tentang akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa di pesisir utara Jawa, yang bisa kamu nikmati lewat monumen dan ornamen tradisionalnya.
Masjid ini jadi bukti bahwa sejarah Islam di Jakarta tidak hanya datang dari budaya Betawi atau Jawa, tetapi juga dari komunitas Tionghoa Muslim yang menetap sejak era kolonial. Nama Babah Alun sendiri mengacu pada salah satu tokoh keturunan Tionghoa Muslim yang berperan besar dalam pendirian masjid ini. Bangunannya juga menyiratkan jejak masa lalu yang kaya cerita.
Masjid ini punya kisah menarik karena didirikan oleh seorang tokoh lokal keturunan Tionghoa Muslim. Arsitekturnya dirancang seperti klenteng dengan ornamen khas China, atap tingkat, dan simbol-simbol yang menyatu dengan estetika Islam. Masjid ini bukan hanya tempat salat, tetapi juga titik pertemuan komunitas yang sarat dengan filosofi toleransi.
Jaringan Masjid Lautze juga merupakan salah satu ikon akulturasi, dimulai di Jakarta pada awal 1990-an kemudian berkembang ke Bandung, Cirebon, dan kota lain. Masjid-masjid ini menyuguhkan estetika Tionghoa lewat warna dan kaligrafi Mandarin yang harmonis berpadu dengan nilai Islam, serta menjadi pusat komunitas China Muslim di masing-masing kota.
Masjid ini punya nilai sejarah yang kuat karena dibangun pada abad ke-19 oleh saudagar keturunan Tionghoa di Medan. Desainnya unik, memadukan seni arsitektur Tionghoa dan Melayu di tengah lanskap urban Medan yang berlapis sejarah.
Masjid Nanik Musini di Serang, Banten, menjadi salah satu contoh kuat bagaimana arsitektur bisa menjadi medium dialog budaya. Masjid ini dibangun atas inisiatif Nanik Musini, seorang perempuan Muslim keturunan Tionghoa, sebagai wujud kecintaan pada Islam sekaligus penghormatan terhadap akar budayanya. Desain masjid menampilkan atap melengkung khas arsitektur Tionghoa, pilihan warna yang lembut namun bermakna, serta ornamen yang dirancang tanpa menghilangkan esensi nilai-nilai Islam.
Kalau kamu berencana jalan-jalan dan memotret keindahan masjid-masjid di atas, kamu pasti butuh tempat istirahat yang nyaman. Banyak hotel OYO strategis di dekat destinasi wisata budaya dan religi tersebut, mulai dari penginapan di dekat kawasan Pecinan Jakarta hingga hotel dekat pusat kota di Surabaya dan Palembang. Mulai dari akomodasi terjangkau sampai yang nyaman untuk keluarga, semuanya bisa kamu temukan dengan mudah. Cek rekomendasi hotel nyaman dekat destinasi wisata religi berikut.
Hotel O Genteng Near Genteng Market Formerly Uno Hotel
Townhouse Oak Pasar Baru Heritage
Hotel O Medan City Near Lapangan Benteng
Collection O near MRT Cipete Raya
Ingin temukan hotel paling cocok untuk itinerary kamu? Cek beragam pilihan properti OYO, lihat review, dan booking langsung di aplikasi OYO sekarang juga buat pengalaman perjalanan yang menyenangkan dari ujung ke ujung!
Pontianak bukan hanya dikenal karena posisinya yang tepat dilalui garis khatulistiwa, tetapi juga karena kekayaan…
Setiap awal April, ada satu tradisi yang berjalan lebih pelan dari ritme kehidupan sehari-hari. Di…
Kalau kamu ingin merasakan Ramadan dengan suasana yang benar-benar berbeda, Festival Aceh Ramadan adalah event…
Jika kamu ingin memahami bagaimana Islam pertama kali tumbuh dan diterima di Tanah Jawa, Gresik…
Menjelang waktu berbuka puasa, ngabuburit kerap identik dengan aktivitas santai untuk mengisi sore hari sambil…
Sebagai ibu kota Sumatera Utara, Medan dikenal sebagai kota multikultural dengan pengaruh Melayu, Batak, Tionghoa,…